By: I Made Suryawan
Jujur saya ungkapkan bahwa saya tidak pernah bercita-cita untuk menjalin sebuah hubungan yang lama dengan seseorang. Saya hanya membiarkannya mengalir seperti apa adanya.
Pernahkan anda merasa bahwa diri anda sendiri tidak cukup kuat untuk menahan beban hidup? Jika dianalogikan, bagaikan sebuah server komputer yang harus meladeni jutaan request layanan setiap harinya. Dengan memiliki sesorang sebagai tempat untuk berbagi beban hidup! Serius! Silahkan tanya ma Yeyen bagian mana dari diriku yang tidak dia ketahui?
Hahahaha.. Jadi ingat pengalaman saya dulu waktu berdebat sama teman-teman di sekber (dalam keadaan setengah sadar, hehehehehe…). Kami memperdebatkan tentang cinta pada pandangan pertama. Bener ada ga sih? Well, actually I don’t know about it. But, as I was looking at Yeyen for the first time, I felt that I found someone to whom I really felt so close. Mungkin anda merasa kalau itu hanya sebuah romantic story yang ingin saya ceritakan buat pemanis saja. But, it’s not.
Mempunyai seseorang untuk menelanjangi diri anda terkadang memberikan kelegaan pada diri sendiri. Semuanya tidak harus kita hadapi sendiri. Ditambah lagi ketika kita mempunyai seseorang untuk benar-benar kita percayai, bahkan mempercayakan hidup kita sekali pun.
Menurut saya, ada nilai pendalaman emosi dalam sebuah hubungan. Entah jangka panjang, menengah, atau pun jangka pendek. Why? Karena ketika kita menjalin sebuah hubungan terdapat proses tawar-menawar emosi antara kita dengan pasangan kita.
Bagaikan sebuah puzzle, kita harus berusaha mencari sisi yang pas, sehingga puzzle itu bisa menemukan tempat yang tepat sehingga terlihat bentuk utuhnya. Dalam hubungan itu, kita mengkompromikan emosi, karakter, habbit, etc dengan pasangan kita. Di sinilah proses tawar menawar itu dimulai. Kita dituntut untuk melakukan pendewasaan sikap setiap kalinya. Semakin lama sebuah hubungan, maka semakin lama juga proses pendewasaan itu akan terjadi, dan semakin banyak pula kompromi-kompromi itu akan dilakukan.
Banyak rekan yang menanyakan kapan menikah kepada kami. Well, menurut saya mempunyai sebuah hubungan bukanlah sekedar untuk memenuhi syarat kita hidup sebagai manusia. Bukan pula hanya sekedar mengamalkan ajaran agama kita, yang mana nantinya hubungan itu akan diarahkan pada jenjang pernikahan yang bermuara pada proses meneruskan garis keturunan keluarga.
Nope! Bagi saya tidak sedangkal itu. Bagi saya menjalin hubungan adalah proses yang terjadi dalam diri saya secara natural sebagai manusia. Urusan menikah hanyalah urusan formalitas yang dibuat oleh manusia dalam statusnya sebagai makhluk sosial (yang tentunya memiliki segudang aturan, norma, dan etika). Tulisan ini tidak untuk menguji norma-norma tadi. Ini adalah sebuah prinsip bagi saya dalam hidup saya yang tentunya saya dapatkan tidak dengan wangsit, tapi melalui pemikiran dan pengalaman saya. Hahahahaha… Kok jadi serius!
Sebenarnya banyak hal yang ingin saya ulas di sini. Tapi ntar jadinya terlalu serius. Ok deh. Segitu dulu ya.
Happy anniversary for us!